Suatu pagi yang
panas di tahun 1957, di sebuah rumah besar di Jalan Mangkurawang 9,
Tenggarong, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, Heldy, gadis
kecil berusia 10 tahun, menangis meraung-raung gara-gara tak diajak
kakak-kakak nya ke Samarinda. Hari itu, Presiden Sukarno berpidato di
alun-alun Samarinda.
Sang kakak tak mengizinkan Heldy pergi
karena selain perjalanan ke Samarinda hanya bisa dengan kapal menyusuri
S. Mahakam selama dua jam, suasana akan sangat ramai setiap kali
Presiden Sukarno berpidato. Maka Heldy hanya bisa mendengarkan pidato
Bung Karno di radio. Bagi Heldy, yang penting bukanlah isi
pidato, melainkan kebesaran dan ketokohan sosok yang fotonya banyak
terpasang di dinding rumah orangtuanya itu.
Diramal akan
mendapat orang besar
Lahir sebagai bungsu dari
sembilan besaudara anak-anak pasangan H. Djafar yang seorang
pemborong terpandang di Tenggarong dan Hj. Hamiah, pada 10 Agustus 1947,
Heldy merasa selalu mendapat curahan perhatian keluarga. Kakak-kakaknya
adalah Zubaedah (perempuan), Erham (laki-laki), Milot (perempuan),
Ruslan (laki-laki, sering dipanggil Yus). Badrun (laki-laki), Johan
(laki-laki), Abu (laki-laki), dan Erni (perempuan).
Ketika
mengandung Heldy, Hj. Hamiah sempat melihat bulan purnama bulat utuh.
Lalu teman ayahnya, seorang pria Tionghoa, mengatakan, “Nanti kalau
bayimu lahir, harus dijaga ya, sampai dia beranjak dewasa.”
Saat
Heldy duduk di bangku SMP, seorang tante (dalam bahasa Kalimantan adalah
“mbok”), Mbok Nong, yang dianggap pandai meramal, mengatakan kepada Ibu
Heldy, “Wah, anakmu ini kelak jika dewasa akan mendapatkan orang besar.
Jadi tolong dijaga baik-baik ya.”
Si bungsu yang cantik dan
berkulit putih itu selalu dilindungi dan dimanjakan. Ketika remaja,
Heldy juga pandai mengaji hingga memenangi lomba

baca Al Quran.
Ayahnya paling senang merasakan kakinya dipijat si bungsu sambil
melafazkan ayat-ayat Al Quran, sampai terlelap.
Tamat sekolah
dasar (waktu itu disebut Sekolah Rakyat), Heldy melanjutkan ke SMP
Gunung Pedidi di Jln. Rondong, Demang, Tenggarong. Menjelang naik ke
kelas 3, terjadi proses nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda.
Ayah Heldy yang bekerja di perusahaan Belanda Oost Borneo Maatschapij
(OBM) pun berhenti. Dalam rangka mencari pekerjaan, H. Djafar memboyong
keluarganya pindah ke Samarinda. Heldy pun meneruskan kelas 3 SMP-nya di
sebuah sekolah Katolik di Samarinda.
Setelah lulus SMP, Heldy
yang sudah tumbuh menjadi remaja putri 16 tahun dan berperawakan mungil
itu pun pergi mengikuti jejak kakak-kakaknya ke Jakarta untuk menuntut
ilmu. Cita-citanya menjadi desainer interior. Dari Samarinda naik kapal
menyusuri sungai menuju Balikpapan, lalu dari Pelabuhan Semayang,
Balikpapan, naik kapal laut Naira yang besar. Heldy ditemani Milot dan
Izhar, iparnya, serta bayi satu bulan anak terkecil Milot, Achmad Rizali
Noor. Berlayar sepanjang malam menuju Surabaya, dan dari sana disambung
naik kereta api sehari semalam ke Jakarta.
Barisan
Bhinneka Tunggal Ika
Heldy tinggal di rumah Erham yang
saat itu telah berkeluarga dan memiliki tiga anak, di Jln. Ciawi III No.
4 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di sana juga ada dua keponakan istri
Erham, Sofini dan Maryati. Ada pula dua sepupu Heldy yakni Kartini dan
Nur, juga Johan, kakak laki-laki Heldy. Heldy banyak membantu kakak
iparnya di dapur. Ia juga pandai menjahit baju. Erham yang bekerja di
sebuah bank swasta punya penghasilan besar, jadi tidak masalah menampung
banyak kerabat di rumahnya. Sementara Yus, salah satu kakak Heldy
yang kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, tinggal di Asrama
Mahasiswa Kalimantan Timur di Jakarta Pusat.
Yus seorang aktivis.
Ia Ketua Perhimpunan Mahasiswa Kalimantan Timur, akrab dengan pelbagai
kalangan. Dalam suatu acara ia mengajak Heldy yang saat itu sekolah di
Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) – kemudian berubah menjadi Sekolah
Kepandaian Keputrian Atas (SKKA) dan sekarang menjadi Sekolah Menengah
Kepandaian Keputrian (SMKK) – di daerah Pasar Baru. Rupanya kecantikan
Heldy menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa. Adji, salah seorang
mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, bahkan menyatakan
cintanya. Padahal ada beberapa pemuda yang juga naksir. Guru kimia yang
mahasiswa Fakultas Kedokteran, Zulkifli TS Tjaniago, misalnya. Atau guru
pelajaran tekstil, Arnauly, juga sering memberi perhatian besar dan
mengunjungi Heldy.
Selain cantik, Heldy juga pernah memenangi
lomba mengenakan kebaya. Ia luwes, terbiasa mengenakan busana
tradisional Kalimantan. Majalah
Pantjawarna menampilkannya pada
cover.
Karena
jejaring aktivitasnya Yus juga dipercaya pihak protokol Istana Negara
untuk menyiapkan barisan Bhinneka Tunggal Ika. Barisan yang diprakarsai
oleh Presiden Soekarno itu terdiri atas remaja putra-putri dari pelbagai
provinsi. Mereka bagian dari protokol Istana, selalu berdiri berjajar
sebagai pagar ayu dan pagar bagus di setiap acara. Heldy yang saat itu
kelas 2 SKKA terpilih mewakili Kalimantan. Demikian juga sepupunya dan
keponakan istri Erham.
Suatu hari di tahun 1964, Heldy berdiri
berjajar di tangga Istana Merdeka bersama anggota barisan Bhinneka
Tunggal Ika. Ia mengenakan kebaya warna pink dengan kain
lereng, berselendang, dan rambutnya disanggul hasil penataan
Minot, kakak perempuannya. Hari itu Presiden akan menyambut tim
bulutangkis yang baru merebut Piala Thomas.
Tibalah saatnya Bung
Karno muncul dan berjalan menapaki anak tangga. Seperti biasa, ia
berjalan sambil mengamati kiri dan kanan. Memandang satu demi satu
anggota barisan, tersenyum, dan tepat di depan Heldy, Bung Karno
mendekat dan menepuk bahu kirinya.
“Dari mana asal kamu?”
“Dari
Kalimantan, Pak,” jawab Heldy kaget dan gemetar.
“Oh, aku kira
dari Sunda. Rupanya ada orang Kalimantan cantik.”
Ada rasa
bangga, khawatir, deg-degan dalam diri Heldy. Orang yang selama ini
hanya bisa dilihat lewat foto dan didengar suaranya lewat radio, menepuk
dan menyapanya. Pertemuan pertama yang penuh ketegangan namun sangat
berkesan.
Yus yang melihat dari kejauhan, dihampiri staf
protokol Istana. “Lihat, adikmu mendapat perhatian dari Presiden.
Baik-baik dijaga,” kata staf itu. Yus tak tahu maksud nasihat itu.
Pertemuan
kedua terjadi saat Heldy dan kawan-kawan mendadak diminta pihak sekolah
menjadi barisan Bhinneka Tungga Ika ke Istana Bogor. Semua keperluan
sudah disediakan lengkap. Kain, kebaya, cemara untuk sanggul, selop,
juga Ibu Maryati, seorang penyanyi keroncong yang akan mendandani.
Mereka tinggal naik bus menuju Bogor.
Dengan kebaya pinjaman, dan
semua yang serba bukan ukuran dirinya, Heldy merasa tidak nyaman.
Kebayanya kedodoran, sanggulnya kendor . Heldy berdiri di sudut yang
tidak mencolok, takut dilihat Presiden Sukarno.
Saat Presiden
lewat, ternyata perhatiannya malah tertuju pada Heldy. Lewat ajudan ia
meminta Heldy mendekat.
“Sanggulmu salah, bukan begini. Juga
kebaya dan kainmu. Siapa yang mendandanimu?”
“Ibu Maryati, Pak,”
jawab Heldy polos sambil menunduk. Kakinya gemetar. Hatinya
berdebar. Pertemuan kedua yang sungguh merontokkan mentalnya.
Beban
mental Heldy belum lepas saat terjadi pertemuan ketiga. Pada suatu
kesempatan, Presiden meminta para anggota barisan menyanyi satu demi
satu. Heldy tak menyangka disuruh tampil pertama. Di tengah rasa grogi
bercampur tekad untuk memperbaiki diri karena pernah ditegur, Heldy pun
memilih lagu daerah Kalimantan. Pikirnya, “Kalau salah tidak ada yang
tahu.”
Di luar harapan Heldy, Presiden memintanya mengulang. Maka
dengan keringat bercucuran, Heldy pun mengulang lagu yang
berkisah tentang saat panen padi itu.
Masa-masa ujian mental pun
lewat. Heldy dan banyak remaja lain makin sering bertugas, kecuali di
pagi hari saat ia sekolah. Selain senang karena berjumpa dengan Bung
Karno dan para tamunya, mereka juga mendapat honor. Biasanya, setiap
habis bertugas, mereka sering berkumpul dan berbagi cerita. Bagi kelima
gadis yang tinggal di rumah Erham, itu menjadi bahan obrolan seru.
“Kalau
Presiden naksir di antara kita, ada yang mau tidak?” tanya salah
seorang sepupu.
Semua menjawab, “Mau …!” Kecuali Heldy.
“Lho,
kenapa tidak, Heldy?”
“Ya, tidak mungkinlah. Beliau Presiden,
tidak mungkin naksir kita.”
Setelah itu, aktivitas Heldy sebagai
anggota barisan Bhinneka Tunggal Ika malah agak menurun. Selain acara
kebanyakan diadakan di pagi hari ,
Heldy juga sempat menjalani
operasi amandel.
Tapi suatu penugasan baru mengharuskannya ikut.
Heldy mempersiapkan diri dengan saksama. Ia meminta Minot memasangkan
sanggul dengan sempurna. Kain milik sendiri, demikian pula kebaya warna
hijau yang sangat pas di badan.
Ketika acara mulai, Heldy tetap
mengambil posisi sudut. Tapi Presiden malah memintanya mendekat. Mental
Heldy langsung jatuh. Kesalahan apa lagi kali ini? Gadis 18 tahun itu
melangkah pelan dengan kaki gemetaran.
“Ke mana saja kau, sudah
lama tidak kelihatan?” Rupanya presiden memperhatikan.
“Sakit,
Pak,” jawab Heldy dengan suara lirih tercekat.
“Bohong, kau
pacaran. Saya lihat kau di Metropole sedang menonton film.”
“Tidak,
Pak,” kali ini Heldy berani mengangkat muka. Tapi pertanyaaan
bertubi-tubi mengubur kembali nyalinya. Heldy kembali tertunduk.
“Nanti
kau lenso sama aku ya. Sini, kau duduk dekat aku,” kata Presiden.
Saat
menari lenso pun tiba. Heldy yang untungnya sering diajari kakaknya
menari lenso, tahu harus melakukan apa. Tapi berlenso dengan Presiden?
Oh, tidak.
Di hadapan banyak tamu penting, juga artis penghibur
yang lebih senior seperti Titiek Puspa, Rita Zahara, dan Feti Fatimah,
Heldy menyambut uluran tangan Presiden. Dengan ragu ia memberikan
telapak tangan kirinya yang dingin untuk digenggam Bung Karno, sementara
ia harus meletakkan tangan kanannya di bahu kiri Bung Karno. Ia
menunduk, membiarkan pinggang kecilnya dipeluk Bung Karno yang
terus-menerus menatapnya.
“Siapa namamu?” tanya Bung Karno sambil
berbisik.
“Heldy,” jawabnya pelahan.
“Sekolahmu?”
“Kelas
dua SKKA.”
“Berapa umurmu?”
“Delapan belas tahun.”
“Hm
… cukup.”
“Boleh aku datang ke rumahmu?”
Heldy dihadapkan
pada kenyataan seperti sering dicandakan para sepupu. Kalau Presiden
naksir, banyak gadis yang mau. Heldy tersudut pada keadaan tak bisa
menolak, ia pun mengalami bukti nyata sesuatu yang dia anggap mustahil:
presiden naksir anggota barisan Bhinneka Tunggal Ika.
Tapi, apa makna
perkataan Bung Karno, “Hmm … cukup” tadi?
Pikiran berkecamuk di
tengah ketegangan. Keringat bercucuran, hatinya berdegup dalam gerakan
tari lenso. Antara sadar dan tidak, Heldy mendengar suara banyak orang
bernyanyi,
Baju hijau siapa yang punya, baju hijau siapa yang
punya/Baju hijau siapa yang punya, baju hijau Bapak yang punya.
Makin
lama makin gaduh. Ternyata itu malah mengembalikan kesadaran Heldy.
Matanya menyapu ruangan mencari-cari orang berbaju hijau. Baru ia sadar,
ia satu-satunya y ang berbaju hijau . Tapi apa makna ”Bapak yang
punya”?
Bung Karno jatuh cinta lagi
Sejak
acara menari lenso, keadaan langsung berubah bagi Heldy. Ia sering
diamati, juga ada anggota Cakrabirawa, pasukan pengamanan Presiden, yang
selalu menjaganya. Akibatnya, mahasiswa seperti Adji dan Zulkifli
mundur teratur dari hasratnya mendekati Heldy.
Tanggal 12 Mei
1965, Bung Karno berkunjung ke rumah Erham tempat Heldy tinggal.
Sebelumnya sejumlah “orang Istana” datang. Mereka antara lain meminta
agar ketika Presiden datang, lampu teras dimatikan.
Presiden
datang dengan penampilan yang sangat berbeda. Tanpa peci, celana panjang
hitam, kemeja putih lengan pendek yang kancing atasnya terbuka, bahkan
mengenakan sandal. Presiden Republik Indonesia datang ke rumah Erham
untuk mengunjungi adik bungsunya. Ini nyata. Kebetulan, saat itu H.
Djafar juga ada di Jakarta. Maka ayah Heldy yang berusia 65 tahun dan
Bung Karno yang berusia 64 tahun pun bertemu. Setelah saling mengucapkan
salam, H. Djafar pun masuk. Heldy menghidangkan teh yang dibuatnya
sendiri di dalam cangkir terbaik yang ada di rumah itu.
Bung
Karno menyatakan ketertarikannya kepada Heldy, namun Heldy merasa masih
terlalu muda. Heldy meminta agar Bung Karno memilih perempuan lain saja.
Tapi Bung Karno tidak marah. Ia tersenyum saja dan memberikan sebuah
bungkusan kecil. Isinya jam tangan Rolex.
Kemudian Bung Karno
mengajak pergi mencari makan malam. Heldy mendampinginya di jok belakang
VW Kodok yang dikemudian Darsono dan didampingi ajudan Kolonel Parto.
Sementara Erham ikut di mobil lain bersama rombongan yang keseluruhan
berjumlah tiga mobil. Mereka menuju ke daerah Sampur untuk membeli sate
ayam langganan Bung Karno.
Dalam perjalanan itulah Bung Karno
berbicara lagi tentang ketertarikannya kepada Heldy.
“Dik, kau
tahu. Kau tidak pernah mencari aku, aku juga tidak mencari engkau. Tapi
Allah sudah mempertemukan kita.” Bung Karno selalu memanggil Heldy
dengan sebutan Dik, dan belakangan ia juga menolak Heldy memanggil Pak.
Ia ingin Heldy memanggilnya Mas.
Setelah kunjungan pertama,
kunjungan berikutnya makin sering. Bung Karno sering tiduran di sofa
menunggu Heldy, kadang mengajak Johan beradu panco. Bung Karno selalu
memberi uang yang jumlahnya tidak sedikit. Saat Hj. Hamiah ke Jakarta
Bung Karno juga memberi uang. Belakangan Heldy diberi mobil Holden
Premier warna biru telur asin. Heldy jadi sering ke Istana .
Orang
makin tahu bahwa Heldy adalah kekasih Bung Karno. Keadaan ini membuat
dirinya repot. Ke sekolah selalu dalam pengawalan, pun dengan penampilan
dan wangi parfum yang beda dengan teman-teman nya. Akhirnya Heldy
memutuskan untuk bersekolah di rumah. Ia memanggil guru, juga menambahi
pelajaran bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Gadis belia dari Tenggarong
itu pun harus sering bersanggul dan berkebaya, mengenakan selop
setinggi 7 cm. Seorang sepupu bernama Eka Rosdiana diangkat menjadi
sekretarisnya.
Hadiah dari Bung Karno mengalir terus tanpa pernah
diminta. Heldy mendapat rumah atas namanya sendiri di Jln. Cibatu (kini
Jln. Prof. Djokosutono). Mobil Holden Premier pun diganti Mercedes
Benz 220 S warna hitam bernomor polisi tanggal lahirnya, B 1008. Jika
berkunjung, Bung Karno sering hanya minta telur rebus yang disantapnya
dengan kecap. Sepengetahuan Heldy, Bung Karno jarang makan daging. Nasi
pun hanya sedikit.
Dari Bung Karno Heldy belajar banyak hal.
Tentang kehidupan, tentang cara berpakaian, cara merawat badan, juga
membangkitkan kebanggaan sebagai perempuan Indonesia dengan kebaya khas
Indonesia. Lewat salat berdua yang sering mereka lakukan di
Istana, Heldy belajar tentang agama. Ketika sepulang dari berziarah ke
makam ayah Bung Karno, R. Soekemi Sosrodihardjo, di Karet, Jakarta
Pusat, Bung Karno melihat seekor kecoa menggelepar-gelepar dalam posisi
badan terbalik, ia memerintahkan ajudan untuk membalikkan badan kecoa
itu. Heldy menyimpulkan betapa Bung Karno sangat welas asih bahkan
terhadap binatang.
Ayah tak sempat mendampingi di
pernikahan
Suhu politik memanas di akhir September
1965. Bung Karno disibukkan oleh urusan politik sehingga Heldy jarang ke
Istana. Bung Karno juga jarang ke Jln. Cibatu. Pada 1 Oktober datang
ajudan membawa kabar bahwa Presiden baik-baik saja. Beberapa hari
kemudian datang lagi ajudan
untuk menjemput Heldy. Tetap dengan kain
dan kebaya, ia naik jip menuju Istana. Di sepanjang jalan banyak
tentara bersiaga. Suasana tegang. Sesampai di Istana, Heldy tak
mendapati sambutan Bung Karno seperti biasanya. Bung Karno sedang
tiduran di kamar. Raut wajahnya terlihat letih.
“Mas agak
capek,” kata Bung Karno. Ia mencium pipi Heldy, Heldy pun menyambut
kecupan itu dengan penuh rindu. Bung Karno banyak bercerita, sementara
Heldy tak berani bertanya tentang peristiwa G30S yang didengarnya di
radio .
Bulan Mei 1966, sudah hampir setahun Heldy menjadi
kekasih Bung Karno. Itu waktu yang cukup bagi Bung Karno untuk meminta
kesediaan Heldy menjadi istrinya.
Heldy diam sesaat. Ia tahu
benar keadaan negara sedang gawat. Ia juga tahu Bung Karno telah
memiliki beberapa istri sebelum dirinya. Siti Oetari Tjokroaminoto,
Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Ratna Sari Dewi, Haryatie, Kartini
Manoppo, dan Yurike Sanger. Hanya dengan Yurike ia kenal karena pernah
sama-sama menjadi anggota barisan Bhinneka Tunggal Ika.
“Yang aku
cari bukan wanita yang cantik luarnya saja. Tapi juga dalamnya, dan itu
ada dalam dirimu. Kau sungguh menarik bagiku, dan kau juga bisa
beribadah dan mengerti baca Al Quran, ini yang aku cari sesungguhnya.”
“Saya
tidak bisa menolak lamaran Bapak, hubungan kita sudah telanjur dekat.
Saya mau menikah dengan Bapak,” jawab Heldy sambil menatap Bung Karno.
Tanggal
pernikahan pun dipilih, 11 Juni 1966 alias lima hari setelah Bung Karno
berulangtahun ke-65. Berita bahagia segera dikabarkan ke
Kalimantan. Ayah Heldy yang bersuka cita bergegas ke Jakarta. Sayang,
baru sampai di Samarinda dadanya sakit dan ia dibawa kembali ke
Tenggarong. Sehari sebelum akad nikah putrinya, H. Djafar meninggal
dunia karena serangan jantung.
Heldy menjalani upacara pernikahan
dengan penuh keprihatinan. Tak ada musik, tak ada gamelan, tak ada
kemeriahan. Tak ada harum bunga, tak ada kebaya khusus. Ia hanya bisa
memohon petunjuk Tuhan, dan dalam doa minta izin ayahnya untuk menikah
dengan Ir. Sukarno.
Bung Karno menikahi Heldy Djafar dengan
disaksikan Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Idham Chalid, Erham
Djafar selaku wali, dan Menteri Agama K.H. Saifuddin Zuhri. Bung Karno
dan Erham berjabatan erat, kedua saksi mendengarkan kata yang terucap
dari bibir Bung Karno.
“ … dengan emas kawin sebuah gelang emas
putih bermata berlian dengan kadar enam karat ….”
Surat nikah
yang telah ditandatangani oleh saksi dan wali itu dipegang Idham Chalid.
Saksi yang juga Menteri Agama menyatakan,”Ya, Yang Mulia,
sah
pernikahan ini.” Hati Heldy kelewat girang sehingga lupa meminta surat
itu.
Menjelang sore, Bung Karno menemui Heldy dan mengajaknya
ke kamar. Heldy agak takut dan berlari ke kamar mandi. Bung Karno
menyusul, Heldy kembali ke kamar tidur.
“Maaf Mas, ee … Mas, saya
pasrah.”
Bung Karno biasa tidur di atas pukul 22.00.
Kebiasaannya, jika akan tidur minta dipijat kakinya. Persis almarhum
ayah Heldy. Bung Karno suka menyandarkan kepalanya di dada Heldy,
membiarkan Heldy mengelus-elus rambut dan kepalanya sampai
terlelap. Lalu, setelah merasa ingin tidur, Bung Karno pindah posisi ke
belakang punggung Heldy. Ia memang seorang perayu dan pandai memuaskan
wanita.
“Engkaulah wanita yang selama ini aku cari, engkau wanita
yang aku cintai, engkau cinta terakhir bagiku. Jangan permainkan aku
ya,” katanya sambil terus menciumi kulit Heldy yang putih. Sehabis
bercinta, biasanya keduanya mandi dan dilanjutkan dengan salat bersama,
Bung Karno menjadi imam.
Minta izin untuk menjauh
Di
suatu siang, sejumlah anggota Corps Polisi Militer (CPM) datang ke
rumah Heldy dan memeriksa. Mereka menyatakan, mulai malam itu, penjagaan
dan pengawalan dihapuskan. Bung Karno tidak boleh lagi datang karena
rumah itu tidak layak dikunjungi Presiden. Bung Karno akan tinggal di
rumah Yurike Sanger di daerah Polonia, Jakarta Timur. Heldy harus ke
sana kalau ingin bertemu .
Sungguh situasi yang menyakitkan
perasaan. Ia bertemu dengan Bung Karno di depan tatapan pemilik rumah.
Meski dulu keduanya berteman, tapi Heldy menangkap rasa cemburu dalam
diri Yurike. Apalagi Bung Karno sering menunjukkan kelebihan Heldy
kepada Yurike.
Telepon, kirim utusan, atau surat yang diantar
ajudan dari Presiden kepada Heldy tak selancar hari-hari sebelumnya.
Heldy juga sering mendapat telepon dengan nada meneror, melarang dia
mengunjungi Bung Karno di Polonia. Heldy bimbang dan harus menahan
perasaan. Ia tahu, sebagai salah satu istri memang tak selalu
bisa berada di dekatnya. Ia juga tahu bahwa situasi politik makin
membatasi dirinya untuk bertemu dengan Bung Karno. Maka dalam suatu
kesempatan bertemu, Heldy memberanikan diri bicara, “Mas, saya tidak
tahan lagi dengan situasi ini. Kita tidak bisa terus bersama, dan kalau
bertemu harus di rumah orang lain. Saya mohon izin untuk menjauh dari
Mas.”
“Dik, aku tidak mau pisah sama kau. Kau cinta terakhirku.
Kecuali aku pulang ke Rahmatullah.”
Air mata Heldy membasahi
tangan Bung Karno yang diciumnya. Ia ingin menjelaskan betapa
menderita dirinya selama ini, tapi itu semua di simpannya karena tak
ingin menambah beban pikiran Bung Karno. Ia kehilangan orang yang sudah
mengangkat namanya, orang yang sudah mengenalkan keagungan cinta
kepadanya, orang yang pernah mengukir hatinya demi cinta, dan orang
pertama yang pernah menyentuh dirinya, tanpa tahu apakah akan
mendapatkannya kembali atau tidak. Di sisi lain ia harus berani
menentukan jalan hidupnya ke depan.
“Mas … saya pergi.”
Meski
tak pernah lagi bertemu, Bung Karno masih sering mengirim surat,
memberi hadiah atau uang kepada Heldy. Tapi sebaliknya, surat-surat
Heldy tak pernah dibalas. Belakangan Heldy tahu, Bung Karno tak lagi
tinggal di rumah Yurike, tetapi di Wisma Yaso di Jalan Gatot Subroto,
rumah Ratna Sari Dewi. Hanya sedikit orang yang boleh datang menjenguk,
dan itu tidak termasuk Heldy.
Suatu malam, saat naik mobil
mencari makan, Heldy bertemu mobil Ford yang ditumpangi Bung
Karno. Sesaat keduanya melepaskan rindu di dalam mobil.
“Sudah,
masuklah ke mobilmu lagi, aku mau pulang ke Wisma Yaso. Jaga dirimu
ya.” Keduanya berpisah dalam langit Jakarta yang menghitam. Itulah
pertemuan terakhir mereka.
Kembali pada kehidupan semula,
menyebabkan para pemuda kembali mendekat. Salah seorang yang serius
adalah Gusti Suriansyah Noor, putra Pangeran Mohamad Noor dari Istana
Kutai Kartanegara yang pernah menjadi Menteri Pekerjaan Umum. Insinyur
lulusan ITB yang juga berkarir di Departemen Pekerjaan Umum itu
sesungguhnya sudah menaruh hati sejak Heldy masih kecil di Tenggarong .
Tapi
tak semua anggota keluarga setuju. Maka Heldy salat istikharah untuk
memohon petunjuk Tuhan. Ibunya, Hj. Hamiah, memberi pendapat, “Paling
enak ya memiliki suami sendiri, bukan suami yang punya banyak orang.
Kamu bisa memiliki seutuhnya.”
Pada 19 Juni 1968 Heldy, dalam
usia menjelang 21 tahun, resmi menjadi istri Gusti Suriansyah Noor.
Ia mendampingi suaminya di Departemen Pekerjaan Umum, juga aktif di
Dharma Wanita. Ia tinggal di rumah dinas, sementara rumah pribadinya
dikontrakkan sehingga ia memiliki penghasilan sendiri. Pada tahun 1969
mobil Mercedes ditarik oleh negara, dan Bung Karno memberi Heldy uang
untuk membeli mobil pengganti. Ia memilih Fiat yang saat itu sedang
trendy
.
Dalam perjalanan selanjutnya, lahirlah enam anak. Anak kedua,
Gusti Maya Firanti Noor, kemudian diperistri Haryo Wibowo Harjoyudanto
alias Ari Sigit, cucu Presiden (saat itu) Soeharto. Jauh sebelumnya
seorang kenalan asal Belanda, Frans Backer, membaca garis tangan Heldy
dan mengatakan, salah satu anaknya akan menaikkan derajat orangtua.
Walau akhirnya perkawinan Maya – Ari kandas setelah memiliki tiga anak,
ramalan itu terbukti.
Sabtu 20 Juni 1970, ketika sedang
mengandung Maya, Heldy bermimpi di kamar mandinya terdapat banyak gambar
Bung Karno, tapi tiba-tiba gambar-gambar itu berjatuhan. Keesokan
harinya ia mendengar dari radio, Bung Karno wafat. Heldy menangis
sendiri di ruang tamu. Hingga saat pemakaman di Blitar esok harinya,
Heldy hanya bisa mengantar dalam tangis di rumahnya. Kandungannya
terlalu besar untuk bepergian.
Tak terasa waktu berlalu cepat.
Kesibukan di Dharma Wanita dan membesarkan enam anak telah
menghapus rasa duka Heldy. Hingga suatu hari di tahun 1992, bersama
rombongan Dharma Wanita Heldy berziarah ke Blitar. Air matanya tumpah
lagi di sana. Andai saja ia tahu Bung Karno akan pergi selamanya, ia
akan berusaha merawatnya sampai detik ajal mengambilnya. (
Intisari/SL)
Heldy,
Cinta Terakhir Bung Karno, Ully Hermono dan Peter Kasenda,
Penerbit Buku Kompas, 2011